Music bagi gw adalah hal yang begitu istimewa untuk didengar. Bukan hanya itu tapi begitu indah untuk dirasakan diresapi dan dimainkan. Bagiku music takkan bisa menjadi sempurna keindahannya tanpa memainkannya. Dahulu gw sudah cukup dengan mendengar sudah bisa merasakan kedamaian musik. Tapi lama-lama gw gak puas kalau hanya meendengar, gw punya tekad besar biar bisa mainin alat music, kalau bisa semua alat music gw kuasain, walau dengan fasilitas yang terbatas tapi gak bakal bikin surut tekadku.
Kalau tau perjalanan hidup gw, rasanya aneh bisa mencapai itu semua, bayangin aja gw dilahirin di lingkungan keluarga yang tingkat kereligiusannya tinggi. Apa lagi gw dilahirin di kampung yang notabene pemahaman religiusnya masih agak kaku, masih kurang bisa memadukan antara masa lalu dan masa kini. Ada sedikit yang berbau modern langsung ditafsirkan haram. Yang lebih lagi, kalau diurut-urut gw masih keturunan pemuka agama di kampung gw yang sangat menolak kehadiran music jaman sekarang. Maklum pergelaran music di tempat gw sering dibarengi dengan yang namanya tawuran antar kampong, padahal permusuhan antar kampung itu memang sudah berjalan lama. Dan pemicunya pun masalah pribadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan music.
Duduk di bangku SMP semakin membuat gairah music gw semakin besar. Waktu itu iri sama temen-temen hampir semua bisa main music. Karena di kampung fasilitas music masih terbatas, yang paling realistis hanyalah gitar. Dengan hanya mendengar temen-temen main gitar, sedikit demi sedikit gw mulai belajar. Hasrat gw bermusik sempat surut ketika permintaan memiliki alat music gw ditolak habis-habisan sama ortu gw. Dengan pertimbangan bahwa itu bakal bikin gw males belajar, akhirnya gw sisain uang jajan gw, dan hasilnya tahun ke-2 di SMP gw udah punya gitar sendiri.
Lulus SMP membuat semangat gw surut lagi. Ortu suruh gw nyantri, atau paling tidak tinggal di asrama. Awalnya gw tolak, tapi akhirnya gw terima. Masuk asrama yang perlu perjuangan keras bersaing dengan yang lain membuat gw semakin merasa beruntung menjadi bagian dari instansi itu. Tapatnya di MAKN Bandar Lampung, satu atap dengan MAN 1 Bandar Lampung. Ternyata gw bener-bener menemukan keajaiban di sana. Gw dipertemuin sama orang-orang yang berpikiran sama dengan gw. Akhirnya gw barenng mereka iseng-iseng latihan tiap minggu sampai akhirnya kita deklarasiin kita sebagai satu group band (Nowdays Tragedy). Ryand (Vocal, Bass), Nchep (Drum), Fandy (Guitar). Hanya dengan tiga orang kita bikin aliran music keras. Rock yang kita pilih. Kendala kita adalah waktu, selain itu siswa asrama dilarang membawa kendaraan so, tranportasi cukup menghambat kelancaran hobi kita. Dengan segala hambatan kegiatan bermusik tetap kita jalani. Sampai di akhir tahun pada acara perpisahan kita mendeklarasikan perubahan nama kita menjadi Minority.
Sekarang kesemuanya melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. 2 di UII termasuk gw dan satu lagi Ryand di UMY. Meskipun satu kota tapi kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing, sehingga nama group kita sudah hampir hilang. Latihanpun sudah hampir tidak pernah, tapi gw harap ini bukan akhir dari keterlibatan gw dalam dunia music. Justru di sini gw dapet banyak pengalaman. Sekarang gw mulai mengenal berbagai alat music tidak hanya terbatas pada gitar, bass, and drum, tapi lebih dari itu. Gw harap dalam waktu dekat ini gw bisa temuin lagi orang-orang yang berpikiran sama dengan gw.
Perjalanan bermusik
Diposting oleh afandy di 08.54
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


2 komentar:
ohya k.afandy ska musik apa, klo rini ska musik rock ia tapi bagus
ohya k.afandy ganteng dech cocok klo jdian ma marisa suka musik apa,klo rini musik apa a7a yg penting indah
Posting Komentar